Oleh
AlUstadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Bagian Terkahir dari Dua Tulisan 2/2
Tentang atThaifah alManshuurah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya : Senantiasa ada segolongan dari umatku yang selalu dalam kebenaran menegakkan
perintah Allah, tidak akan mencelakai mereka orang yang tidak menolongnya dan orang yang
menyelisihinya sampai datang perintah Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu.” [8]
Tentang alGhurabaa’, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Artinya : Islam awalnya asing, dan kelak akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka
beruntunglah bagi alGhuraba’ (orangorang asing).” [9]
Sedangkan makna alGhuraba’ adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amr bin
al‘Ash Radhiyallahu 'anhu ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam suatu hari menerangkan
tentang makna dari alGhuraba’, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Artinya : Orangorang yang shalih yang berada di tengah banyaknya orangorang yang jelek, orang
yang mendurhakainya lebih banyak daripada yang mentaatinya.” [10]
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda mengenai makna alGhuraba’:
“Artinya : Yaitu, orangorang yang senantiasa memperbaiki (ummat) di tengahtengah rusaknya
manusia.” [11]
Dalam riwayat yang lain disebutkan: “Yaitu orangorang yang memperbaiki Sunnahku (Sunnah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam) sesudah dirusak oleh manusia.” [12]
Ahlus Sunnah, atThaifah alManshurah dan alFirqatun Najiyah semuanya disebut juga Ahlul
Hadits. Penyebutan Ahlus Sunnah, atThaifah alManshurah dan alFirqatun Najiyah dengan Ahlul
Hadist suatu hal yang masyhur dan dikenal sejak generasi Salaf, karena penyebutan itu merupakan
tuntutan nash dan sesuai dengan kondisi dan realitas yang ada. Hal ini diriwayatkan dengan sanad
yang shahih dari para Imam seperti, ‘Abdullah Ibnul Mubarak, ‘Ali Ibnul Madiiny, Ahmad bin
Hanbal, alBukhary, Ahmad bin Sinan dan yang lainnya, Rahimahullah[13].
Imam asySyafi’i [14] (wafat th. 204 H) Rahimahullah berkata: “Apabila aku melihat seorang ahli
hadits, seolaholah aku melihat seorang dari Shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, mudah
mudahan Allah memberikan ganjaran yang terbaik kepada mereka. Mereka telah menjaga pokok
pokok agama untuk kita dan wajib atas kita berterima kasih atas usaha mereka.” [15]
Imam Ibnu Hazm azZhahiri (wafat th. 456 H) menjelaskan mengenai Ahlus Sunnah, “Ahlus
Sunnah yang kami sebutkan itu adalah Ahlul Haq, sedangkan selain mereka adalah Ahlul Bid’ah.
Karena sesungguhnya Ahlus Sunnah itu adalah para Shahabat Radhiyallahu Ajma'in dan setiap
orang yang mengikuti manhaj mereka dari para Tabi’in yang terpilih, kemudian Ashhabul Hadits
dan yang mengikuti mereka dari ahli fiqih dari setiap generasi sampai pada masa kita ini serta
orangorang awam yang mengikuti mereka baik di timur maupun di barat.” [16]
[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas,
Penerbit Pustaka AtTaqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir
1425H/Agustus 2004M]
_________
Foote Note
[8]. HR. AlBukhari (no. 3641) dan Muslim (no. 1037 (174)), dari Shahabat Mu’awiyah
Radhiyallahu 'anhu.
[9]. HR. Muslim no. 145 dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu.
[10]. HR. Ahmad (II/177, 222), Ibnu Wadhdhah no. 168. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad
Syakir dalam tahqiq Musnad Imam Ahmad (VI/207 no. 6650). Lihat juga Bashaairu Dzawi Syaraf
bi Syarah Marwiyyati Manhajas Salaf hal. 125.
[11]. HR. Abu Ja’far athThahawy dalam Syarah Musykilul Atsaar (II/170 no. 689), alLaalikaiy
dalam Syarh Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah no. 173 dari Shabahat Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu
'anhu. Hadits ini shahih li ghairihi karena ada beberapa syawahidnya. Lihat Syarah Musykiilul
Atsaar (II/170171) dan Silsilah Ahaadits asShahiihah no. 1273.
[12]. HR. AtTirmidzi no. 2630, beliau berkata, “Hadits ini hasan shahih.” Dari Shabahat ‘Amr bin
‘Auf Radhiyallahu 'anhu.
[13]. Sunan atTirmidzi, Kitaabul Fitan no. 2229. Lihat Silsilah Ahaadits ashShahiihah karya Imam
Muhammad Nashiruddin alAlbany Rahimahullah (I/539 no. 270) dan Ahlul Hadits Humuth
Thaifah alManshurah karya Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi alMadkhaly.
[14]. Nama lengkap beliau, Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Idris bin ‘Abbas alQurasyi asy
Syafi’i Rahimahullah, yang terkenal dengan sebutan Imam asySyafi’i, beliau punya hubungan
nasab dengan anak paman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang bertemu dengannya pada
silsilah ‘Abdi Manaf. Beliau dilahirkan tahun 150 H. Para ulama sepakat bahwa beliau adalah orang
yang tsiqah, amanah, adil, zuhud, wara’, ‘alim, faqih dan dermawan. Beliau wafat di Mesir th. 204 H
dalam usia 54 tahun. Di antara kitabkitab karya beliau adalah kitab alUmm dalam bidang fiqih, ar
Risaalah dalam ushul fiqih dan lainnya. Lihat Siyar A’laamin Nubalaa’ (X/599). Untuk menge
tahui lebih jelas tentang manhaj Imam asySyafi’i dalam masalah ‘aqidah dapat dilihat pada kitab
Manhajul Imam asySyafi’i fii Itsbaatil ‘Aqiidah karya Dr. Muhammad bin ‘Abdil Wahhab
al‘Aqiil, cet. I1419 H, dalam dua jilid.
[15]. Lihat Siyar A’laamin Nubalaa’ (X/60).
[16]. AlFishaal fil Milaal wal Ahwaa’ wan Nihaal II/271Daarul Jiil, Beirut
Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1106&bagian=0
Tidak ada komentar:
Posting Komentar